Footer Widget 1

Texts

Footer Widget 3

Footer Widget 2

Blogger Tricks

BlogFlux Tools

Blogger Themes

Mouxine Zone

Tampilkan postingan dengan label Catatan MURI. Tampilkan semua postingan

Sambel Pecel Memecahkan MURI

Hay ada kabar dari kota kesayanganku nih Madiun city :).Kemaren Madiun heboh banget ada 40 ribu manusia memadati kota madiun karena diadakannya pemecahan rekor Muri (museum rekor indonesia) di sepanjang jalan pahlawan madiun.Pasti pada bertanya tanya rekor apa yang mau dipecahkan oleh madiun yah (pede amit )rekor yang mau dipecahkan adalah rekor sambel pecel sepanjang 1 kilometer.haduh mantep deh.tapi aq capek banget loh karena anak-anak pramuka sekota madiun disuruh ikut bantuin pak polisi jaga si sambel pecel.mana penontonnya berdesak-desakan dan dorong-dorongan maju ke depan terus lagi aq sampai kewalahan dan terus ngomel-ngomel bu pak tolong mundur(aduh udah kayak pak polisi belom yah ) gitu terus tapi nyatanya omongan ku ga digubris sama sekali mereka ke depan dan terus ke depan wah-wah emang warga madiun kurang tertib tuh :) .

Pemrakarsa sambel pecel sepanjang 1000 meter itu adalah ibu walikota(sory ga tahu namanya kemaren disebutin tapi lupa)dibantu dengan 2000 ibu pkk sekota madiun dan pembuatannya itu loh bukan main lamanya 2 minggu lo bok mantep mantep.saat detik detik terakir kemaren smua warga madiun berdoa tuh agar panjangnya 1000 meter karena klo ga 1000 meter ga jadi rekor bok eh ga taunya malah panjangnya mencapai 1200 meter aduh bok panjang melebihi target MURI :) sip deh.kalian bisa baca beritanya disini.

Oh ya dalam rangka ultah madiun yang ke 89 banyak sekali event yang dieselenggarakan cuman aq lupa apa aja pokoknya banyak banget bulan juni emang enak buat cuci mata loh kok bisa? iya soalnya ada karnaval drum band di madiun mungkin aja yang mau ke madiun silakan aja banyak cewek cantik keluar deh dijamin :) kemaren diubek ubek sambil jaga cari-cari pandangan hidup eh dapat juga mantep deh :) yuk cari cewek cantik madiun :)

Tag : ,

400 Mading Pecahkan Rekor Muri

Pameran majalah dinding yang digelar Surat Kabar Mahasiswa Universitas Gadjah Mada Bulaksumur di area bulevar kampus UGM, Minggu (8/7), memecahkan rekor Muri sebagai mading terbanyak. Tercatat 400 mading karya pelajar dan mahasiswa dipajang dalam pameran itu.

Jumlah majalah dinding (mading) itu jauh lebih banyak dari catatan rekor sebelumnya, yakni 229 mading, yang dipegang harian Jawa Pos tahun 2003 di Surabaya. Karena itu, menurut Ari Andriani dari lembaga Muri, mading terbanyak ini layak masuk dalam rekor Muri dan tercatat dengan nomor rekor 2.631. Piagam penghargaan diserahkan Muri yang diwakili Ari Andriani kepada Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni UGM Chairil Anwar.

Ketua panitia lomba dan pameran mading bertajuk “Mbeber Ekspresi”, Maharani Ratna Pambayun, menuturkan, acara pemecahan rekor yang digelar untuk memperingati ulang tahun ke-16 SKM UGM Bulaksumur itu diawali dengan lomba mading tingkat SMP, SMA, mahasiswa, dan umum. Pengumpulan mading dilakukan 18 Juni-3 Juli.

“Mading dari para peserta lomba itulah yang dipamerkan dalam pemecahan rekor ini. Peserta sendiri ada sekitar 150 kelompok. Setiap kelompok bebas mau mengumpulkan berapa mading. Terkumpul 400 buah,” katanya.

Lomba

Maharani menuturkan, lomba dan pemecahan rekor itu bertujuan menggalakkan budaya menulis di kalangan pelajar dan mahasiswa sekaligus untuk mengenalkan dunia jurnalistik mading. “Mading itu sesuatu yang menarik, mudah tetapi memerlukan kreativitas untuk membuatnya. Menulis di mading bisa dengan gaya santai, tidak perlu sangat serius, sederhana saja bisa,” katanya.

Ia menuturkan, berdasarkan pengamatan yang dilakukan, dunia mading saat ini cenderung lesu. Meski beberapa kali lomba mading sudah digelar, ini belum berdampak signifikan membangkitkan dunia mading di sekolah dan di perguruan tinggi. “Kami ingin membuat acara yang berbeda. Selama ini lomba mading kurang gereget. Nah dengan acara seperti ini diharapkan bisa lebih luas cakupannya sehingga akan bisa mendorong pelajar dan mahasiswa selalu mengingat mading,” tuturnya.

Chairil Anwar berharap pemecahan rekor dapat memberikan semangat bagi pelajar dan mahasiswa untuk aktif dalam dunia tulis-menulis dan jurnalistik. “Selama ini kita kan lebih banyak budaya lisan bukan menulis dan membaca. Budaya menulis perlu digalakkan,” ungkapnya. (RWN)

Sumber: Kompas, 9 Juli 2007


Tag : ,

CATAT REKOR MURI ; Ngenet 24 Jam Nonstop

NGENET nonstop selama 24 jam menghantarkan sejumlah mahasiswa Fakultas Kedokteran dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta dan Universitas Airlangga Surabaya mencatatkan rekor baru di Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI).
Tapi ‘main’ yang satu ini memang bukan sekadar main, melainkan menjelajahi pelbagai belahan dunia maya untuk mengunduh (download) khusus materi kedokteran dari internet. Hasilnya, selain tercatat sebagai download terlama pertama di Indonesia, jumlah materi yang diunduh juga terbanyak yaitu 7.000 jurnal kesehatan.
Itulah pencatatan rekor baru MURI dari kegiatan bertajuk Cyber Medical Download Competition yang berlangsung di Fakultas Kedokteran UGM Kamis (21/8). Prestasi ini tercatat sebagai rekor ke- 3.336 di MURI. Sertifikat MURI diserahkan oleh Manajer MURI Paulus Pangka SH kepada Wakil Dekan Fakultas Kedokteran UGM Prof dr Iwan Dwi Prahasta MMed SC PhD dan Deputi General Manager Public Sector PT Acer Indonesia Rainbow Saragih,
selaku penyelenggara.
Cyber Medical Download Competition yang digelar mulai pukul 14.00 Rabu (20/8) diikuti 19 tim fakultas kedokteran dari UGM, Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta, Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta dan Unair Surabaya yang terbagi dalam kategori non-UGM dan UGM, dengan masing-masing tim terdiri 3 mahasiswa. Namun setelah berjalan 18 jam, 6 tim tak mampu melanjutkan kompetisi sehingga hanya tersisa 13 tim.
Dari 13 tim itu, akhirnya Unair berhasil merebut Juara I dan UNS juara II untuk kategori non-UGM dan tim angkatan 96 menyabet juara I dan II untuk kategori peserta dari UGM. Kriteria penilaian terdiri dari ketahanan peserta mengunduh selama 24 jam nonstop, kesesuaian materi dengan tema yang telah ditentukan dan jumlah jurnal terbanyak beserta kesesuaian data basenya.
”PT Acer Indonesia sebagai perusahaan komputer terkemuka di Indonesia bangga dengan prestasi ini dan berkomitmen mendukung kemajuan pendidikan di Indonesia. Melalui Acer e-learning initiative secara konsisten telah bekerja sama dengan berbagai pihak di Indonesia untuk terus memanfaatkan kemajuan bidang teknologi informasi dan komunikasi,” ujar Rainbow Saragih.
Sebelumnya, dalam kunjungan silaturahmi ke Redaksi KR, Helmi Anan, Marketing Communication PT Acer menegaskan komitmen Acer pada dunia pendidikan ini akan terus dikembangkan. ”Kami memberikan apresiasi yang tinggi pada Yogya yang sangat concern pada dunia IT,” kata Helmi, ketika diterima Pemimpin Redaksi KR, Drs Octo Lampito MPd.
Kenyataan yang membuat surprised di Yogya, selain banyaknya mahasiswa yang sudah akrab dengan laptop dan memanfaatkan banyak tempat terbuka yang memiliki hot spot, juga banyaknya event bazar dan pameran komputer yang pernah sepi pengunjung. ”Kami sangat terbuka untuk mengembangkan kemitraan dengan komunitas-komunitas yang ada di Yogya,” katanya.
Bahkan, Helmi juga menyampaikan apresiasinya pada SKH Kedaulatan Rakyat yang meneguhkan diri sebagai community newspaper, dengan mengangkat potensi komunitas yang ada di Yogya, termasuk dari dunia pendidikan.(sumber KR)

Tag : ,

Rekor MURI Untuk Grup Band SD Muhamadiyah 4

Surabaya, (Kominfo-Newsroom) - Grup Band SD Muhammadiyah 4 Pucang
Surabaya, berhasil memecahkan rekor Museum Rekor Indonesia (Muri) 2005 untuk kategori band dengan personil terkecil rata-rata berusia 6-7 tahun , dengan membawakan 15 lagu umum, daerah, kebangsaan dan anak-anak.

Rekor lama untuk kategori itu dipegang SD Kepanjen Jombang yang pada
lomba kali ini hanya berhasil membawakan 10 lagu.
Direktur Galery Muri, Ocey Rubine usai penyerahan piagam Muri di SD
Muhammadiyah 4 Pucang Surabaya, Selasa (20/6) sore mengatakan, Muri memberikan
piagam ini kepada SD tersebut karena dinilai berhasil memecahkan rekor Muri
2005 milik SDN Kepanjen Jombang.

"Pemain grup band SD Muhammadiyah ini berusia muda antara 6-7 tahun dan
baru duduk di kelas 1 serta mampu membawakan 15 lagu tanpa ada kesalahan.
Karena itu, sangat pantas memperoleh piagam Muri," kata Ocey.

Dia menambahkan, catatan Muri yang berhasil dipecahkan oleh SD
Muhammadiyah 4 Pucang Surabaya ini bernomor urut 1975. yang sebelumnya milik SD Kepanjen Jombang. Karena itu Dewan Muri memberikan nomor lama tersebut kepada grup band ini.
Ocey berharap, pemberian piagam Muri ini dapat memberikan motivasi kepada peserta pemenang Muri untuk selalu mengembangkan karya dan bakatnya demi nama sekolah dan bangsa Indonesia khususnya. "Ke depan,masa depan anak-anak dalam berkarya bisa lebih maju lagi."

Dia menjelaskan, penilaian yang dilakukan Dewan Muri ini sudah sesuai
standar dan persyaratannya meliputi kategori paling, unik dan langka. "Ketiga
persyaratan ini ternyata sudah terdapat dalam metic band ini," katanya.
Direktur Galery Muri ini juga mengatakan, berdasarkan data yang masuk di
Dewan Muri, jumlah rekor Muri yang sudah tercatat hingga 2006 ini mencapai 2005 lembar. "Catatan rekor SD Muhammadiyah ini diperoleh dari nomor lama."

Pada kesempatan yang sama, Kepala Sekolah SD Muhammadiyah 4 Drs Sholihin Fanani mengaku bangga terhadap anak-anak didiknya.
"Meskipun masih sangat muda namun, potensi yang mereka miliki patut kami
banggakan, karena selain jago bermusik, nilai akademis mereka tidak pernah
ketinggalan, karena beberapa dari mereka masuk lima besar," katanya. (hjr/id
d-infokom-jatim.go.id)



Tag : ,

Costarina Mendapat Rekor MURI

Batamcentre (BN)- Developer Arsikon Sabtu (19/5) me-launching Perumahan Coastarina yang berada di Batamcentre dan didekat laut. Perumahan yang akan dibangun diatas tanah seluas 150 hektar ini diberi nama benua-benua yang ada di dunia.
Apalagi tulisan huruf yang bertulisan 'Coastarina' ini mendapat rekor Musium Rekor Indonesia (MURI). Karena tulisan yang dibuat dengan bahan beton ini untuk masing-masing huruf seberat 50 hingga 60 ton.
''Berat huruf yang bertulisan coastarina dengan jumlah 10 huruf ini berjumlah 600 ton,'' papar Cahya, Direktur Arsikon, dalam peluncuran Coastarina.
Ia menuturkan, ini merupakan salah satu rekor yang telah dibuat Arsikon.
Karena rencananya developer Arsikon berencana membuat tiga rekor MURI dalam pembangunan perumahan coastarina. Hal itu diutarakan Cahya dalam peluncuran Coastarina didepan ratusan tamu undangan.
''Kami akan membuat bola dunia yang paling besar diseluruh Indonesia. Saat ini bola dunia sedang didesain dan bola dunia ini akan diletakan di coastarina,'' tuturnya.
Lebih lanjut Cahya mengatakan, untuk rekor MURI yang ketiga yang akan dibuat, Arsikon akan membuat peta dunia yang paling besar di Indonesia dengan semua detail yang ada.
Dimana perumahan coastarina dibuat dengan konsep peta dunia di laut seluas 80 hektar. Peta dunia yang akan dibangun Arsikon tidak hanya memecahkan rekor lokal tetapi juga di dunia. Seperti Batam terkenal dengan jembatan barelang. Begitu juga dengan perumahan Coastarina juga akan terkenal di Batam, tidak hanya untuk lokal saja melainkan juga dunia.
Sedangkan untuk pintu gerbang yang berwarna putih dan dirancang seperti bentuk ikan yang memiliki sengat panjang itu, terlihat sangat indah dan menawan. Merupakan salah satu bagian kebanggan Arsikon yang sudah banyak meluncurkan perumahan eklusif yang ada di Batam, seperti San Donna dan Odessa.
''Yang mendesain pintu gerbang Coastarina ini merupakan putra daerah dari Pulau Kasu, pak Mansyur. Dimana pintu gerbang ini simple namun unik,'' ujarnya dengan bangga.
Sementara itu ketua MURI Jaya Suprana, sebelum menyerahkan piagam rekor MURI kepada Arsikon menuturkan, rekor tulisan coastarina ini bukan hanya rekor Indonesia saja tetapi dunia.
''Karena menurut catatan rekor MURI yang terbesar dan terpanjang ada di Los Angel yang bertulisan HOLLYWOOD, tetapi tulisan itu tidak terbuat dari beton. Sehingga rekor ini bukan hanya nasional tapi dunia,'' pungkasnya.

Tag : ,

Pesta Pernikahan dicatat Rekor MURI

Ingin memecahkan rekor saat melaksanakan pesta pernikahan? Jika Anda menginginkannya tentu Anda harus melakukan beberapa hal agar tercatat di buku Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI). Anda bisa menggunakan ide Anda sendiri untuk mendapatkannya, namun jika Anda belum mendapat ide untuk bisa mencatatkan nama Anda dan pasangan di MURI, bisa jadi berkonsultasi dengan Wedding Organizer (WO) pesta pernikahan adalah cara yang bisa Anda lakukan.

Memang banyak cara untuk merayakan pesta pernikahan agar tetap dikenang sepanjang hidup. Berbagai konsep pernikahan pun banyak ditawarkan para pebisnis yang bergerak di bidang tersebut. Mau menggunakan konsep pernikahan internasional, tradisional, ataupun konsep lainnya tentu terserah Anda. Yang pasti tentu Anda menginginkan pesta pernikahan berlangsung sesuai dengan keinginan Anda.

“Inisiatif untuk masuk MURI bisa juga datang dari pasangan yang mau menikah. Mungkin mereka menginginkan masuk MURI setelah melihat ternyata beberapa pasangan pengantin lainnya bisa memecahkan rekor saat pesta pernikahan. Jika mereka menginginkan itu, maka saya akan berusaha menemukan ide supaya pernikahan tersebut bisa memecahkan rekor MURI,” jelas Diyah Maulana pemilik Maudy saat ditemui di ruang kerja yang juga berada di kediamannya di Ngaliyan.

Namun kadang, inisiatif juga datang dari WO atau penyelenggara pernikahan. Biasanya ketika pasangan yang mau menikah berkonsultasi, mereka bisa memilih beberapa konsep untuk pesta pernikahan mereka. Jika WO sedang memiliki ide untuk pemecahan rekor MURI dan pasangan yang mau menikah juga menginginkannya, maka ide itu pun akan segera diusulkan ke MURI agar nanti bisa tercatat sebagai pemecahan rekor.

“Pasangan yang mau menikah, biasanya soal konsep pernikahannya banyak yang menyerahkan pada kami. Karena itu, kami coba untuk mengetahui apa yang mereka inginkan. Setelah itu, baru kami usulkan konsep pesta pernikahannya. Jika memang ingin memecah rekor MURI saat pesta pernikahan, maka kami akan berusaha mewujudkannya,” tambah perempuan yang telah enam kali mencatatkan pesta pernikahan di MURI ini.

Banyak cara supaya pesta pernikahan bisa masuk MURI, bisa dari busana, aksesoris, atau pun dekorasinya. Di catatan MURI yang dimuat di website MURI, tertera kebanyakan mereka yang memecahkan rekor dari kategoti busana. Seperti Gaun Pengantin Rempah Rempah, Gaun Pengantin dari Kulit Kacang, Gaun Pengantin dengan Aplikasi Hasil Bumi, Gaun Pengantin Kertas Koran, Gaun Pengantin dari Telur Ikan, dan masih banyak lagi.

“Ide untuk memecahkan rekor di MURI bisa datang dari mana saja. Kadang malah datang begitu saja saat pasangan yang menikah, mengatakan ingin pesta pernikahan masuk MURI. Pernah suatu saat, pasangan menginginkan masuk MURI saya langsung mengusulkan Busana Kebaya dari Kulit Bawang Putih kepada pasangan. Idenya datang begitu saja,” papar Diyah.

Jadi apakah Anda menginginkan pesta penikahan Anda dan pasangan untuk masuk MURI? Tentu jawabannya tergantung Anda, banyak ide yang bisa diwujudkan untuk masuk dalam buku catatan rekor MURI. Dengan bantuan WO atau penyelengga pesta pernikahan tentu akan menjadi lebih mudah karena memang mereka bergerak di bidang tersebut.

Tag : ,

Browsing Internet Terbanyak Pecahkan Rekor MURI

Ratusan masyarakat Solo, kemarin sore (30/7) berbondong-bondong memadati kawasan city walk di sepanjang Jl Slamet Riyadi, persisnya di depan Kantor Bank Mandiri dan sekitarnya. Kedatangan mereka tidak lain adalah untuk ikut mendukung acara Browsing Internet di City Walk, sekaligus usaha untuk memecahkan rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) Nge-net Terbanyak.

Para peserta acara tersebut mulai berdatangan sejak pukul 15.00 dengan membawa laptop mereka sendiri-sendiri. Begitu datang, para peserta langsung mencari nomor urut yang terpasang di atas meja yang terbalut kain batik, yang disusun memanjang dari Megaland sampai DKT. Begitu menemukan nomor, para peserta langsung mengeluarkan laptop dan menenggelamkan diri di dunia maya.

Dari data yang masuk jumlah peserta acara Browsing Internet di City Walk tersebut diikuti sekitar 800-an orang. Mereka berasal dari beragam kalangan, mulai dari professional, orang tua, mahasiswa, pelajar sampai anak-anak. Namun, oleh MURI hanya tercatat 500 orang. “Kami juga tidak tahu ngitungnya bagaimana. Tapi, sepertinya ada sejumlah peserta yang belum connect saat penghitungan dimulai. Jadi, tidak masuk hitungan,” ujar pak Eko.

Saking tingginya antusiame masyarakat Solo, even tersebut sekaligus ditetapkan sebagai Cybercholic atau Hari Gandrung Internet di Solo. Dengan pencanangan hari tersebut, maka acara serupa akan terus digelar setiap tanggal 30 Juli per tahunnya. “Kegiatan ini sekaligus sebagai bentuk dukungan PT Telkom dalam mewujudkan progam Pemkot Solo Solo Cyber City 2010 mendatang,” jelas pak Eko.

Tag : ,

1 Keluarga Wisuda Bareng Pecahkan Rekor MURI

SURABAYA, SABTU - Untuk pertama kali di Tanah Air, satu keluarga yang terdiri ayah, ibu dan anak diwisuda secara bersamaan. Karena keunikannya itu, keluarga tersebut dicatat dalam Musium Rekor Indonesia (Muri). Wajah penuh kebahagiaan tidak bisa disembunyikan oleh Dr.Tandyo Hasan SH, M.Kn. Dia bersama istrinya Dr. Inge Soesanto, SH, M.Kn dan putera pertamanya Michael Hans mendapat penghargaan dari Musium Rekor Indonesia (Muri).
Karena bersama-sama lulus di program doktoral Fakultas Pascasarjana Universitas Airlangga (Unair) Surabaya dan diwisuda bareng dengan sang anak.

Penghargaan Muri tersebut diserahkanke keluarga yang tinggal di Klampis Anom Surabaya ini dalam acara wisuda yang di Gedung Auditorium Unair kampus C Mulyorejo, Sabtu (18/4). Diserahkan langsung oleh Ketua Muri, Jaya Suprana.

Tandyo Hasan saat berbincang dengan detiksurabaya.com usai wisuda di Restauran Mutiara Jalan Manyar Kertoardjo mengungkapkan, ide ini berawal dari candaan teman-teman serta dosen pembimbingnya kalau apa yang terjadi layak masuk Muri.

Keduanya pasangan yang kuliah bersama dan ujian bersama-sama. Masuk Unair di program doktoral Fakultas Pascasarjana pada tahun 2005. Dia kemudian menghubungi pihak Muri. Tanpa menunggu lama dia mendapat jawaban kalau mereka layak masuk Muri.

"Tidak ada maksud apa-apa, karena ide untuk memasukkan ke Muri adalah iseng. Teman-teman mengatakan karena saya dan istri pantas masuk Muri. Saya kontak dan diberi jawaban Februari," ungkapnya dengan wajah sumringah.

Pria yang juga seorang notaris ini mengatakan penghargaan dari Muri adalah anugerah terindah dari Tuhan. Apa yang terjadi dalam kehidupannya tidak dia rencanakan.

Dia tidak memasang target dengan apa yang dilakukannya. Penghargaan
ini juga diharapkannya bisa memotivasi bagi orang lain untuk belajar tanpa terbatas umur. "Saya jalani semua seperti air, mengalir saja. Saya tidak mau pasang target," katanya yang diamini sang istri, Inge.

Sementara itu sang istri, Inge mengatakan kalau dia kuliah karena 'iri' dengan sang suami yang tidak pernah berhenti belajar. Dia pun memutuskan masuk kuliah kembali dan belajar bersama.

Perempuan yang masih terlihat cantik diusia 52 tahun tersebut mengungkapkan kalau kuliah kembali tidak membuatnya melupakan tanggungjawab sebagai istri, ibu dan juga seorang pengajar.

"Semuanya saya jalani seperti air. Saya beruntung sekali dikaruniai suami dan anak-anak yang tidak membuat saya repot," tuturnya.

Inge menututurkan kuliah lagi memberi motivasi pada anaknya. Sebagai orangtua ini ingin anaknya menjadi orang yang baik dan berguna. Ketika mereka belajar bersamaan seperti sekarang ini membuat dia dekat dengan keluarga. "Saya bisa kenal dunia anak saya begitupula dengan anak saya. Kita bisa berdiskusi bersama," tuturnya.

Sementara itu, Michael Hans sang anak mengatakan kalau dirinya mengaku sangat bahagia karena bisa wisuda bersama dengan orangtuanya. Selama ini menurut mahasiswa Internasional Bussiness Management Kristen Petra Surabaya kedua orangtuanya tidak pernah memaksakan dirinya untuk menjadi apapun.

"Orangtua menyerahkan sepenuhnya ke saya. Saya mau jadi apapun mereka tidak memaksakan kehendak," ujarnya.

Setelah wisuda ini kata Michael dia akan melanjutkan lagi ke program S-2 di Unair. "Saya ambil S-2 lagi, menunggu pengumuman masuk atau tidak," pungkasnya.

Muri menganugerahi tiga kategori penghargaan rekor, yakni ayah, ibu dan anak yang wisuda bersamaan. suami-istri yang menempuh program doktor bidang ilmu hukum secara bersamaan dan Unair ini diwisuda Rektor Unair Surabaya, Fasich dalam upacara wisuda yang diikuti 1.889 wisudawan, yakni 1.374 wisudawan S-1, 162 wisudawan S-2, 53 wisudawan S-3 dan 300 wisudawan D-3.


Tag : ,

Sarung Ikat Tenun Terpanjang di Dunia Pecahkan Rekor MURI

Perajin kain tenun ikat dan colet asal Lamongan Jawa Timur, berhasil memecahkan rekor Musium Rekor Indonesia (Selasa/31/03/09). Mereka berhasil membuat kain tenun sepanjang 64 meter dan dengan lebar satu meter. Kain tersebut mengalahkan rekor Sebelumnya yang dipegang Propinsi Nusa Tenggara Timur dengan panjang hanya 50 meter.

Suasana pameran di Gedung Showroom produk Lamongan di Jalan Panglima Sudirman Kota Lamongan, ramai oleh pengunjung yang ingin melihat aneka kerajinan khas Lamongan. di antara produk yang mengundang daya tarik pengunjung adalah kain tenun ikat, kerajinan tradisional asal desa Parengan Kecamatan Maduran, Lamongan.

Tak hanya itu, daya tarik sarung tenun tradisional kali ini juga di meriahkan dengan adanya sarung tenun ikat terpanjang di dunia yang berhasil memecahkan Musium Rekor Indonesia.

Kain tenun yang dikerjakan dengan teknik ikat dan colet ini dikerjakan oleh sepuluh perajin profesional menggunakan alat tenun tradisional, dengan motif kain khas warga setempat.

Kain tenun dengan warna ungu tersebut dihiasi pernik-pernik berwarna merah muda dan putih ini, memiliki panjang 64 meter dan lebar satu meter.

Penasbihan rekor untuk tenun ikat parengan Lamongan ini sekaligus menggeser rekor tenun ikat sebelumnya oleh Dewan Kerajinan Nasional Daerah Kabupaten Sumba Timur Propinsi NTT. Karya tenun ikat ini hanya sepanjang 50,1 meter dengan lebar 60 centimeter. Itupun dikerjakan oleh 60 orang pekerja selama 152 hari.

Miftahul Khoiri, pembuat kain sarung ini mengaku terinspirasi membuat kain tenun terpanjang, untuk menunjukkan pada dunia, bahwa Lamongan memiliki produk unggulan, berupa sarung tenun ikat tradisional, yang di warisi secara turun temurun.

“saya ingin dunia tahu jika Lamongan bisa memproduksi sarung spektakuler dengan panjang mencapai 60 meter lebih” ujar miftahul kepada Berita 86

Menurut Miftahul, pembuatan sarung terpanjang ini membutuhkan waktu 22 hari dan menghabiskan dana lebih dari tujuh juta rupiah. Bahan-bahannya pun di pilih mengggunakan bahan pilihan terbaik. yakni di datangkan dari india dan china.

Jaya Suprana selaku Ketua MURI serahkan langsung plakat penghargaan dengan nomor registri 3637/R.MURI/III/2009 itu. Masing-masing kepada Bupati Lamongan selaku pemrakarsa, Miftakhul Koiri selaku pembuat dan Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan (Diskopindag) selaku sektor penyelenggara.

Menurut Jaya Suprana, kain tenun sepanjang 64 meter ini tidak hanya tercatat dalam Musium Rekor Indonesia, namun juga rekor dunia, serta mengalahkan rekor sebelumnya yang dipegang Propinsi Nusa Tenggara Timur.

“Kain tenun lamongan ini tergolong unik dengan bahan baku kualitas terbaik” kata Jaya Suprana.

Meski sudah banyak yang menginginkan kain tenun pemecah rekor ini, namun Miftahul tetap tidak menjualnya. Bahkan Miftahul ingin kain bersejarah ini diabadikan di gedung Showroom kota Lamongan.

Desa Parengan di Lamongan memang memiliki potensi besar pada bidang industri tenun ikat. Sejumlah 30 unit industri tenun ikat yang ada di desa ini sanggup emnyerap tenaga kerja hingga 3000 orang. Unit industri tenun ikat di desa ini umumnya sudah memakai ATBM (alat tenun bukan mesin). Sementara bahan baku seperti seperti sutera dan pewarna masih mengimpor dari India dan China.

Tag : ,

Sejarah Komik Indonesia

”Tidak seharusnya buku komik seperti itu!” Scott McCloud dalam Understanding Comics: The Invisible Art, HarperCollins Publishers, New York, 1993. Lontaran Scott McCloud di awal tulisan ini berpijak pada kondisi sosiologis yang keliru di masyarakat sehingga eksistensi komik melulu dianggap sebagai bacaan anak mutu rendahan, sekali baca lalu dibuang. Tapi, lontaran di atas bolehlah dikatakan sebagai indikasi masih kerdilnya pemahaman masyarakat terhadap komik. Tapi bagaimana dengan komikus lokal kita atau kreatornya sendiri? Dalam tulisan saya Komik Tak Pernah Mati (Sinar Harapan, 16 Oktober 2004) telah diuraikan komikus Indonesia rata-rata ”bersembunyi” dalam profesi lain misalnya animator film iklan, desainer grafis, dan ilustrator buku/majalah seperti halnya sastrawan yang bekerja sebagai wartawan, copywriter perusahaan advertising, atau editor sebuah penerbitan notabene masih kurang mengeksplorasi kemampuan terbaiknya dalam menghasilkan komik. Alhasil, komik yang ada cenderung senada (kebanyakan manga dan anime Jepang). Atau ketika mengeksplorasi gaya lain, misalnya kartun atau komik Eropa-Amerika, tetap saja terjerembab pada kemiskinan bercerita sehingga walau unggul secara visual cenderung gagal secara naratif. Memang bukan hal mudah memunculkan semangat seorang pencipta. Para komikus umumnya bekerja sendiri lantaran komiknya dikerjakan di luar rutinitasnya sebagai pekerja. Masa-masa R.A Kosasih, Ganes Th., Hasmi, dan Jan Mintaraga yang bisa hidup sepenuhnya dari membuat komik agak sulit untuk terulang kembali. Konsentrasi komikus kita di masa kini umumnya terpecah antara mengerjakan ilustrasi pesanan dengan membuat komik sebagai pencapaian kreativitas pribadinya. Padahal, tatkala mengerjakan komik, kita mengharapkan seperti halnya kerja seorang penyair yang mampu memisahkan latar belakang dengan karyanya seperti John Keats dalam Sastra dan Psikologi, pada Teori Kesusasteraan yang ditulis Renee Wellek dan Austin Warren (Gramedia, 1990),”…(Diri penyair) adalah segala sesuatu dan sekaligus tidak ada...Seorang penyair adalah sesuatu yang paling tidak puitis di seluruh semesta, karena ia tidak punya identitas-ia terus menerus menciptakan dan mengisi jagad lain.” Pada hakikatnya karya yang baik entah itu lepas atau tak lepas dari keseharian penciptanya tetap mempunyai ruang yang menurut John Keats ”terus menerus diciptakan dan mengisi jagad lain”. Kesulitan membagi konsentrasi ini seperti dikeluhkan seorang komikus muda kepada saya membuat saya yakin kebanyakan karya komik lokal belum mampu ”mengisi jagad lain” itu. Sejarah yang Putus. Masalah kurang terbukanya komikus lokal (baca: underground) masa kini dengan disiplin ilmu lain seperti sastra hingga tak menghasilkan cerita yang memikat disebabkan adanya missing link sejarah komik dengan generasi sekarang. Andy Wijaya, pencetus situs KomikIndonesia.com yang belum lama ini sedang berupaya menerbitkan kembali komik klasik Indonesia Gundala dan Si Buta dalam sebuah wawancara melalui e-mail mengatakan, ”Ini bukan semata kesalahan mereka. Komik-komik klasik Indonesia sendiri kebanyakan sudah OOP (out of print) alias tidak diterbitkan lagi.” Missing link alias putusnya sejarah menjadikan perkembangan komik lokal kita bak kepala tanpa leher. Ia gagal menjadi mata rantai produksi massa namun bergeliat ditandai dengan tumbuhnya pelbagai komunitas komik underground di berbagai tempat. Ia berhasil menjadi indikator kreatif tapi terlepas dari sejarah yang dulu pernah melahirkannya. Perkembangan komik Indonesia seperti ”sakit” dan ”jalan di tempat”. Kehidupan dan perkembangan komik Indonesia sebenarnya amat ditentukan oleh kondisi kehidupan masyarakatnya. Karna Mustaqim dalam Mari Membaca Komik (situs IndieComic.com, 7 Juli 2004) mengatakan perkembangan komik lokal gagal memikat masyarakatnya sendiri untuk kembali mencintai komik. Senada dengan missing link tersebut, Hikmat Darmawan pengamat komik dalam sebuah diskusi bertajuk Membandingkan (Kebangkitan) Komik Jerman-Indonesia 22 Oktober 2204 di Goethe Institut Jakarta mengatakan, sumber referensi komikus umumnya kurang karena mereka sendiri toh hanya membaca komik. Nah! Missing link lain yang boleh disebut adalah kurangnya media berbasis komik ataupun mengangkat komik-kartun lokal. Padahal pada tahun 2001 dan 2002 pernah terbit tabloid Komikku dan Komik SAP, majalah KumKom (Kumpulan Komik, terbitan Gramedia 1994), majalah HuMor (1990) yang bermetamorfosis dua kali pada tahun 1980-an setelah berganti nama dari majalah Stop, majalah Eppo (juga tahun 1980-an) dan yang tertua majalah Pop-Comics. Lembergar atawa Lembaran Bergambar suplemen dalam harian Pos Kota sejak pertengahan1970-an sampai awal 1990-an juga tak dapat dilupakan sumbangsihnya dalam sejarah komik lokal dengan menghadirkan Keliek Siswoyo (Doyok), Budi (Otoy) serta tokoh lain yang tak kalah populer seperti Kubil, komik karya Martono, Dhika Kamesywara, dan lain-lain. Ironisnya suplemen ini tiba-tiba jadi ”korban” semenjak krisis ekonomi 1998. Walau kini masih ada tapi tak seramai dulu karena hanya menyisakan dua tokoh saja, yaitu Doyok dan Otoy. Sampai kini komik strip cenderung kurang berkembang, bahkan dalam industri pers sendiri yang sebenarnya bisa mendukung kehidupan komik strip lokal secara finansial. Kalaupun ada hanya dimiliki grup besar saja seperti Kompas meskipun sesungguhnya jika penerbit sedikit memberi kesempatan, dapat membantu perkembangan komik lokal. Anehnya, perkembangan kartun dan karikatur yang sebenarnya bersaudara dengan komik cenderung lebih baik ketimbang komik. Perkumpulan kartunis di Indonesia bahkan menjadi sindikat tersendiri seperti Kelompok Kartunis Kaliwungu yang disebut ‘Kokkang’. Sindikat yang bergerak sejak awal 1980-an ketika media cetak memberi perhatian cukup besar pada kartun ini memiliki akses cukup kuat sehingga karya-karyanya mendominasi banyak media massa. (Kartun Berhenti di Kaliwungu, PANTAU, Mei 2001). Para anggota Kokkang pun ada juga yang menjadi komikus. Sebutlah Muchid Rahmat yang kini menjadi komikus freelance di Elex Media Komputindo. Kokkang sendiri pun diam-diam menjelajah mancanegara. Beberapa karyanya ada yang dimuat di Yomiuri Shimbun selain aktif mengikuti festival kartun seperti Nasreddin Hodja Contest (Turki), The Magna Cartoon Exhibition Hokaido Japan, dan lain-lain. Selain Kokkang, ada Pakarti (Perkumpulan Kartunis Indonesia) yang salah satunya dibidani kartunis senior Pramono. Buku telaah tentang komik atau kartun pun minim. Sampai kini yang baru terbit hanya beberapa judul, misalnya Komik Indonesia (Marcel Bonneff, 1998), Karikatur dan Politik (Augustin Sibarani, 2001), Menakar Panji Koming (Muhammad Nashir Setiawan, 2002), dan Kartun (I Dewa Putu Wijana, 2004). Selebihnya hanya tinjauan singkat yang ”nyempil” sebagai pengantar buku komik dan kartun saja seperti Wimar Witoelar (Lagak Jakarta), Seno Gumira Ajidarma (Sebuah Tebusan Dosa, Teguh Santosa), Goenawan Mohamad (Palestina, Joe Sacco edisi Indonesia terbitan Mizan 2003), dan lain-lain. Ini menunjukkan betapa miskinnya perhatian kita pada komik dalam wacana sehingga tak memunculkan kritikus dan pengamat yang serius. Komunitas komik walau ada dan tetap berkarya belum sampai mengukir prestasi seperti Kokkang. Komunitas komik masih dipandang sebelah mata sehingga produk mereka belum mampu berdiri sendiri. Untung semangat itu belum surut. Banyak komikus memanfaatkan peluang pasar media yang tersedia sebagai suplemen atau promosi produk dari media lainnya. Pengaruh Komunitas Dalam Mari Membaca Komik, Karna Mustaqim menyebutkan komik yang pernah hadir di Indonesia memiliki komunitas penggemar tersendiri. Komu-nitas ini kemudian membentuk pengaruh kepada komikusnya. Misalnya ketika memasuki dekade 70-an hingga 80-an dengan kehadiran komik-komik impor dan terjemahan Barat (Eropa dan Amerika) komik lokal melahirkan tokoh superhero adaptasi Barat (Gundala, Maza, dan Godam) walau di masa itu ada komik wayang R.A Kosasih. Kosasih sendiri bahkan pernah terpengaruh superhero dengan menciptakan superhero wanita Sri Asih. Disusul dekade 90-an hingga saat ini serbuan dari komik terjemahan asal Jepang membentuk pengaruh pula pada komikus. Periodisasi Karna Mustaqin tersebut bukan dimaksudkan sebagai gambaran mutlak. Batasan tahun hanya untuk memperlihatkan adanya perubahan gradual pecinta komik di Indonesia seiring hadirnya komik-komik impor. Keterpengaruhan komik impor baiklah dapat disebut sebagai indikasi postif dengan munculnya kegairahan komikus mengeksplorasi karyanya sekaligus negatif lantaran komik yang terbit saat itu rata-rata memiliki ciri serupa: superhero (70-an dan 80-an) dan manga (90-an sampai sekarang). Mungkin jika tak terjadi missing link komikus masa kini dapat melakukan ”pemberontakan” seperti Hasmi dan Wid N.S yang membuat komik fiksi ilmiah-superhero ketika di masa itu sedang tren komik silat karya Ganes Th. Duet Benny Rachmadi dan Mice (dimulai tahun 1998 dengan seri Lagak Jakarta-nya) serta Ahmad ”Sukribo” Ismail yang berhasil ”mengisi jagad lain” dan melakukan ”pemberontakan” sebagai komikus strip muda selain bekerja sebagai illustrator. Agak lama setelah era Benny dan Mice, baru muncul komikus Beng Rahardian (Selamat Pagi Urbaz!) dan trio Ipot, Oyas, Iput (1001 Jagoan) yang karyanya berhasil melicinkan pengaruh referensi komik Amerika dan Jepang sehingga mampu melepaskan dominasi pengaruh anime dan manga sebagai mainstream pasar buku komik Indonesia. Secara acak, nama lain yang berhasil muncul menunjukkan jati diri tanpa pengaruh mainstream bisa disebut Wahyoe (Gibug), Donny (Alakazam) dan Alfi ”Sekte Komik”. Kehidupan dan perkembangan komik di Indonesia sebenarnya amat ditentukan oleh kondisi kehidupan masyarakatnya. Optimisme bangkitnya komik Indonesia menjelang akhir 2004 ini hendaknya disikapi dengan lebih baik oleh semua pihak sehingga suatu saat komik Indonesia dapat diperhitungkan sebagai produk bermutu sekaligus mempunyai ahli, sejarawan, dan kritikus seperti halnya sastra, seni rupa, atau film. Angan-angan kelahiran komik Indonesia sebagai renaisans mungkin masih jauh walau tak tertutup kemungkinan kelak terbetik semangat kesadaran baru seperti yang pernah dilontarkan pengamat seni rupa Inggris pencetus istilah pop-art, Lawrence Alloway.*

- Copyright © MouxineZone - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -